
Mulut tetangga beraksi, seperti biasa tetangga selalu
menganggap rumput milik sebelahnya lebih hijau. “Eh, kamu, si kesayangan kamu
tuh, pergi kemarin sore ya. Kayaknya mau lamaran. Tapi sih, kayaknya yang
dilamar bukan kamu ya…?”. Sontak aku yang mendengar mulut lamis tetangga yag sungguh
menyinggung perasaan itu, segera berjalan, beriringan dengan rintik hujan.
Mencari cara agar dapat melupakan kenangan yang terlanjur menawan. “Argh,,,,,,,,,” Tertatih aku berjalan, menyusuri lenggak lenggok setapak berlumpur. “Sungguh
aku rapuh, aku rapuh” langkahku mulai terbata, mutiara air mataku tak nampak,
tapi aku merasa tersayat “sungguh aku
tidak lagi kuat. Aku tidak kuat, ya, Aku tidak kuat.” Aku memilih berhenti menikmati titik-titik
hujan beriringkan petir kecil. Aku duduk terdiam di tepi jalan, aku sungguh
patah. Beberapa kali kujambak rambut yang kurasa sudah tiada berguna lagi,
kumaki diri sendiri. Mengapa mereka yang mulai mengisi hati, yang kita harapkan
datang mengisi hari-hari harus begitu cepat dan mudah buat pergi? ‘Ah, nggak, nggak, nggak, dia nggak pergi,
apalagi buat yang lain selain aku’ aku agak gemetar, tapi tetap mencoba
meyakinkan diri. Kadang nyrocosnya tetangga itu membuat luka secara tiba-tiba,
dan bikin putus asa.
Beberapa hari lagi tes semester tiba, aku dengan bagga menyambutnya,
mempersiapkan diri agar tidak gagap saat menjawab soal nanti. Dalam kesibukan
yang ku jalani, kemanapun mataku terarah, diam-diam dia menyelinap dalam
pandangan. “Ah, gila kali aku ya?” aku menggerutu dengan apa yang aku alami. Dia
bahkan ada di kertas soal latihan ujian,
di papan tulis guru, kadang menyelinap
diantara lubang sepatuku.Tapi hampir hal yang sama selalu terjadi, dan
berulangkali. Aku bosan, tapi itulah yang harus kujalani, kehilangan yang dalam
apalagi dengan kadar perasaan yang terlanjur dalam, membuat fase ‘melupakannya’
ini sulit ku lalui.
Lelaki bermata tajam itu tak pernah lagi menampakkan diri, sekalipun bayangnya seolah mengikuti,
melupakannya jadi seperti mustahil terjadi.
Untuk saat ini cara paling mudah untuk membuatkun perih adalah, saat ada
seseorang menginggatkan aku padanya. Ya, ingatan tentang dia itu umpama luka
yang ditaburi garam, teramat sakit.
Hari kian beranjak dan bulan berganti, aku akan belajar mencari jati
diri. Aku yakin, kehilangannya bukanlah satu akhir yang musti diratapi.
Beberapa kegiatan ku ikuti, mulai dari eskul sampai sore hari hingga beberapa
kegiatan yang bikin aku pusing. Ya, setidaknya pusing memikirkan hal yang pasti
ada jawabannya itu tidak lebih menyakitkan daripada memikirkan seseorang yang tak jelas keberadaannya dimana. Tapi
lagi-lagi, apapun yang kutatap selalu ada bayangannya yang diam diam menyusup
mengacaukan konsentrasi. “ Ya ampun. Dia
dimana sih, dia dimana?” aku melontarkan
kata itu saat sedang dalam kumpulan anak kesenian, mereka yang menyadari
tingkah laku tidak jelasku langsung memboom
aku dengan banyak pertanyaan mematikan. “
eh, kamu kenapa sih gak bisa konsen? Bikin kita buyar ginikan? Kenapa sih,? Apa
dia lagi, dan lagi?” mereka yang berulangkali menerima ketidak konsentrasianku
dengan alasan yang sama mulai bosan. Aku merasa dalam keadaan gawat. “oke deh
gini aja ya, karena kita persiapan buat segala sesuatunya udah mepet nih, mending
kamu nggak usah diikutin dulu di acara
kita yang ini. Besok besok kalo ada acara, kamu mungkin bisa ikut lagi’ Mereka
melanjutkan latihan drama, meninggalkan aku yang masih terpaku.
Aku
pulang dengan lelah yang kurasa tak terbayar. Agak kecewa, tapi tak berdaya.
Aku menyibukkan diri dalam perjalanan pulang, dengan menendangi kerikil tak
bersalah. “Argh…” kutendang kerikil yang
agak besaran, dan ‘tong’ kerikil itu menggenai sepeda motor yang kebetulan
lewat dengan lambat. Motor itu berhenti, pengemudinya turun berjalan
menghampiri aku yang mungkin ia anggap sanggat bersalah. “Woy?!!!!”
‘ya ampun, dia’ “apa kabar kamu?
Tuh istriku, oh ya, kamu udah lulus belum si sekolahnya. Eh, lupa, ini udah
ujian belum si?” aku cuma mlonggo ‘istri?’
“eh, ko diem aja sih, nih istriku” ucapnya saat perempuan yang hidungnya mancung
kaya pinokio pembohong itu mendekat. Aku menggulurkan tangan beramah tamah, ternyata
yang diomongkan tetangga-tetanggaku dengan gaya nyinyirnya itu benar, aku tak selalu sepesial buat orang yang
tiba-tiba pergi tanpa ada sebabnya ini, tanpa mengucapkan pamit biar sepatah
kata. Eh, pas dia pulang malah bawa istri, trus apa sih, manfaat aku ingat dia
tiap hari? ‘argh….’